Jakarta Uji Coba Car Free Night di Bundaran HI, Warga Pilih Jalan Kaki
Selama tiga malam, kawasan Bundaran HI ditutup untuk kendaraan bermotor. Trotoar penuh, pedagang kaki lima kebanjiran pembeli, dan pertanyaan lama muncul lagi: kota ini sebenarnya milik siapa?
Pukul tujuh malam, jalan protokol yang biasanya padat klakson berubah jadi lautan pejalan kaki. Keluarga membawa tikar, anak-anak bersepeda, dan pedagang kopi keliling tidak sempat duduk sama sekali.
Uji coba Car Free Night berlangsung tiga malam berturut-turut. Pemerintah kota menyebutnya eksperimen ruang publik, bukan acara hiburan. Bedanya terasa: tidak ada panggung utama, tidak ada sponsor yang mendominasi, hanya jalan yang dikembalikan ke manusia.
Trotoar yang tiba-tiba terasa sempit
Ironisnya, keramaian justru memperlihatkan betapa sempitnya trotoar kita di hari biasa. Begitu jalur kendaraan dibuka untuk pejalan kaki, orang menyebar dengan lega. Banyak yang baru sadar betapa nyamannya berjalan tanpa harus waspada pada motor yang naik ke trotoar.
Kota ini terasa lebih luas kalau kita tidak sedang berebut tempat dengan mesin.
Pedagang kecil paling diuntungkan
Pedagang kaki lima melaporkan omzet dua sampai tiga kali lipat. Penjual minuman dingin mengaku kehabisan stok sebelum pukul sembilan. Mereka berharap uji coba ini tidak berhenti di tiga malam.
Kantong parkir sepeda motor di sekitar kawasan penuh sejak sore.
Rute bus pengumpan dialihkan, sebagian penumpang mengeluh kurang informasi.
Volume sampah naik, tapi petugas kebersihan bergerak lebih cepat dari dugaan.
Pertanyaan yang tersisa bukan soal teknis penutupan jalan, melainkan soal kemauan. Jika tiga malam bisa membuat warga sebahagia ini, apa yang menghalangi kota untuk melakukannya lebih sering?